oleh

Interpol Terbitkan Red Notice Harun Masiku, Ini Kata Polisi

MataMataDot.com || JakartaInterpol telah menerbitkan Red Notice DPO KPK Harun Masiku (tersangka kasus suap). Harun masiku terlibat soal PAW anggota DPR dari PDIP yang meninggal, Nazarudin Kiemas.

Dalam perbuatannya, Harun Masiku berupaya menyuap mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan agar bisa menjadi PAW Nazarudin. Sebab, jika menurut aturan suara terbanyak pengganti Nazarudin, seharusnya adalah Riezky Aprilia.

Atas kejanggalan tersebut, KPK pun turut menduga ada keinginan dari DPP PDIP mengajukan Harun Masiku.

Kini, Interpol telah menerbitkan red notice terhadap buron kasus dugaan korupsi, Harun Masiku. Polri membeberkan telah melacak keberadaan buron KPK itu, dan berkomunikasi dengan sejumlah negara

“Sampai saat ini kita masih komunikasi dengan beberapa negara untuk terus mendeteksi di pintu-pintu masuknya.” ujar Sekretaris NCB Interpol Indonesia Hubinter Polri, Brigjen Amur Chandra Juli Buana, di Mabes Polri, Selasa (10/8/2021).

Harun Masiku Buronan KPK

Amur mengungkapkan pengajuan red notice Harun Masiku ke Interpol merupakan permintaan KPK. Usai KPK meminta penerbitan red notice Harun Masiku. Selanjutnya, penyidik gabungan melakukan gelar perkara untuk menentukan apakah penerbitan itu layak diajukan ke Interpol di Lyon, Prancis, atau tidak.

“Karena ini kasus punya KPK. Jadi permintaan KPK minta ke kita, kita proses dan itu juga perlu sedikit waktu. Karena kita kirim hasil pemeriksaan dan hasil gelar perkara itu ke Lyon, Prancis, dan mereka yang tentukan apakah ini layak jadi red notice atau tidak. Berdasarkan pertimbangan pertimbangan dari komite di Lyon, Prancis.” Ungkap Amur.

Amur mengatakan red notice Harun Masiku terbit setelah pihak Interpol melakukan kajian. Dia juga menjelaskan alasan nama dan wajah Harun Masiku tak terpampang di situs Interpol.

“Ya sebulan lalu. NCB Interpol Indonesia memproses, kirim ke Lyon dan itu keluar red notice-nya. Jadi kita mengklik apakah itu mau publish atau tidak. Penyidik pada saat itu mengatakan tidak perlu publish karena kita perlu kecepatan.” ujarnya.

Dalam kasus ini, pihak berwenang telah menetapkan empat tersangka. Selain Harun dan Wahyu, ada nama Agustiani Tio Fridelina, sebagai mantan anggota Badan Pengawas Pemilu dan berperan menjadi orang kepercayaan Wahyu, serta Saeful, yang hanya disebut KPK sebagai swasta. [Dot]

Komentar

Berita Terkait