Kurs Rupiah Diprediksi Jadi Rp14.700 – Rp14.800 Per Dolar AS Di Akhir 2022

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 1,49% sejak 31 Desember 2021 sampai 29 April 2022. Kurs rupiah diprediksi melemah sampai Rp14.700 – Rp14.800 per dolar AS pada akhir tahun ini.

Mengutip dari beberapa sumber data, kurs rupiah pada 29 April 2022 ditutup pada level Rp14.482 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 1,49% dibandingkan 31 Desember 2021 yang ditutup pada level Rp14.263 per dolar AS.

Macroeconomic Analys, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), Irman Faiz mengatakan pelemahan terhadap dolar AS tidak hanya dialami rupiah, tetapi oleh hampir semua mata uang emerging market.

juga tidak terlalu ngotot mempertahankan. Karena kalau rupiah menguat sendirian, dampaknya akan buruk karena membuat ekspor Indonesia menjadi mahal dan tidak kompetitif,” kata Irman Rabu (11/5).

Menurut Irman pelemahan kurs rupiah tak bisa dihindari akibat ketidakpastian global menyusul terjadinya Perang Rusia-Ukraina. Ditambah lagi Bank sentral AS Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin atau 0,5%, yang diumumkan pada Rabu (4/5) minggu lalu.

BACA JUGA: Hukum Game Higgs Domino Dalam Islam

“Ini membuat investor lebih nyaman dengan dolar AS sebagai safe haven asset. Kemungkinan kurs rupiah akan terdepresiasi sampai akhir tahun,” ujar Irman.

Walau demikian, BI diyakini tak akan membiarkan rupiah terus menerus melemah semakin dalam. Seiring sikap The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan beberapa kali lagi, BI juga diprediksi akan menaikkan BI7DRR sebanyak 50 basis poin lagi sampai akhir 2022.

Dengan demikian, BI7DRR akan menjadi 4% di akhir 2022, mengimbangi Fed Fund Rate yang diprediksi akan naik sampai 2,25% di akhir tahun ini.

“Kami memprediksi kurs rupiah akan melemah menjadi Rp14.500 – Rp14.600 per dolar AS pada akhir Q2 2022. Sementara akhir tahun ini akan melemah jadi Rp14.700 – Rp14.800 per dolar AS,” tutup Irman.

Langkah The Fed menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin minggu lalu merupakan kenaikan terbesar dalam dua dekade yang dilakukan untuk mengatasi lonjakan inflasi AS yang mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

“Inflasi terlalu tinggi dan kami memahami kesulitan yang ditimbulkannya. Kami bergerak cepat untuk menurunkannya kembali. Kami sangat berkomitmen untuk memulihkan stabilitas harga,” kata Ketua Fed Jerome Powell selama konferensi pers mengutip CNBC.

Seiring dengan kenaikan suku bunga, bank sentral AS juga mengindikasikan akan mulai mengurangi kepemilikan aset pada neraca sebesar USD 9 triliun.

The Fed telah membeli obligasi untuk menjaga suku bunga rendah dan arus cash flow selama pandemi, tetapi lonjakan harga memaksa bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

BACA JUGA: 9 Aplikasi Trading Crypto Terbaik dan Terpercaya, Masih Legit Cari Cuan

Komentar