oleh

Polda Lampung sidik PT URM atas Kasus Korupsi Pekerjaan Kontruksi Jalan

matamatadot.com || Bandar Lampung – Ditreskrimsus melalui Subdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Lampung sidik PT URM atas kasus korupsi pekerjaan kontruksi Jalan Ir Sutami KM 17 Lampung Selatan hingga Sribawono Tahun Anggaran 2018-2019.

PT Usaha Remaja Mandiri (URM) merupakan pelaksana proyek Jalan Ir Sutami KM 17 Lampung Selatan hingga Sribawono.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol. Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, atas dugaan tindak pidana korupsi oleh PT URM ini, kerugian negara mencapai Rp 60 hingga Rp65 miliar.

Atas kasus ini, Tim Penyidik Ditreskrimsus Polda Lampung melakukan penyelidikan sejak 6 Oktober 2020. Lalu, di lanjut ke penyidikan pada 26 Februari 2021.

Kasus ini bukan hanya di monitor oleh Polri saja, namun juga institusi lain seperti Kejaksaan dan KPK.

Periksa 54 Orang Saksi

Sejauh ini, kami sudah memeriksa 54 orang saksi dari berbagai pihak. Sebelumnya kami sudah menggeledah Kantor PT URM di empat ruangan.

Direskrimsus Polda Lampung, Kombes Pol. Maestron Siboron mengungkapkan, dari hasil penggeledahan di Kantor PT URM mendapatkan sejumlah barang bukti ada dua CPU komputer berisi dokumen-dokumen palsu. Kemudian di temukan flash disk berisi data, tiga cap stempel milik perusahaan orang lain, dokumen kontrak, dan dokumen lainnya.

Sedangkan, untuk barang stempel yang di amankan, modusnya mereka membuatkan CV fiktif, bahwa seolah-olah dukumen yang di terbitkan dari instansi terkait, ini hasilnya asli.

Ada beberapa instansi seperti BPJS, SLU, konsultan pengawas, dan perusahaan di Jakarta sebagai supplier bahan.

Di singgung mengenai nilai pagu proyek yang di dapat PT URM untuk proyek infrastruktur Jalan Ir Sutami yang di danai APBN melalui Kementerian PUPR. Polda Lampung menyebut total nilai pagu Rp147,7 miliar. Kemudian untuk komitmen fee proyek dari kasus tersebut Polda Lampung belum menemukannya dan masih melakukan pengembangan lanjutan. (PRO3).

“CPU ini berisi dokumen yang membuktikan bahwa, ini tidak sama antara kontrak dengan realitas pekerjaan di lapangan. Kemudian di amankan barang bukti pengembalian kerugian negara senilai Rp10 miliar, yang di sita empat tahap,” pungkas Direskrimsus Polda Lampung. [mtm]

Komentar

Berita Terkait