Polres Pematangsiantar menetapkan Empat Orang Petugas Forensik RSUD Djasamen Saragih Selaku Tersangka

matamatadot.com || Pematangsiantar – Empat orang petugas forensik Rumah Sakit Universal Wilayah( RSUD) Djasamen Saragih, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, telah ditetapkan oleh Polisi sebagai tersangka lantaran memandikan seorang wanita bukan muhrim bernama Zakiah (50 Th), Kamis, (18/02/2021). Keempat petugas laki- laki tersebut bernama samaran DAAY, ESPS, RS, serta REP. Dari 2 diantara tersangka tersebut dikenal selaku perawat.

Informasi yang dihimpun matamatadot.com dari berbagai sumber :

Dikutip dari pihak – pihak terkait, awal mula peristiwa terjadi

  • Awalnya suami Zakiah, Fauzi Munthe diterima atas perlakuan keempat tersangka tersebut terhadap istrinya, hingga akhirnya berujung pelaporan kepada pihak polisi.
  • Sang suami menilai perbuatan keempat petugas forensik tersebut dinilai tidak cocok dengan syariat Islam fardu kifayah, ialah jenazah perempuan dimandikan oleh laki- laki yang bukan muhrim.
  • Padahal penerapan untuk merawat jenazah Covid- 19 bagu umat Islam tadinya sudah disepakati antara Majelis Ulama Indonesia( MUI) Kota Pematangsiantar, pihak RSUD Djasamen Saragih, serta Satgas Covid- 19 Kota Pematangsiantar pada 24 Juni 2020.
  • Polres Pematangsiantar melalui Kasat Reskrim AKP Edi Sukamto menerangkan bahwa tindak lanjut laporan itu, polisi melaksanakan pengembangan penyelidikan serta pengecekan kepada yang bersangkutan. Berdasarkan penjelasan saksi pakar dan MUI, akhirnya Polisi menetapkan para petugas forensik itu selaku tersangka. Itu perbuatan penistaan agama. Berkas permasalahan tersebut dikala ini sudah dinyatakan lengkap serta telah diserahkan kepada Kejaksaan Negara Siantar.
  • Keempat tersangka tidak dicoba penahanan oleh Kejaksaan seperti yang diterangkan oleh Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi pertimbangannya, sebab keempat petugas forensik itu masih diperlukan buat menanggulangi jenazah di RSUD Djasamen Saragih. Dikwatirkan mengganggu aktivitas forensik terlebih saat ini keadaan pandemi Covid 19.

BACA JUGA : Peringatan!!Ambil Jenazah Covid 19, Polres Tuban Tetapkan Tersangka Tiga Orang

Dikutip dari goriau.com, kejadian tersebut memantik reaksi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia( PPNI), berikut penjelasannya

  • Selaku wujud solidaritas pengurus serta puluhan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia( PPNI) ikut muncul mendampingi para tersangka.
  • PPNI pula membagikan pendampingan hukum kepada para terdakwa sepanjang proses hukum berjalan.
  • Kami selaku kuasa hukum PPNI siap membagikan dorongan hukum sampai proses sidang, kata Pengacara dari Tubuh Dorongan Hukum PPNI, Muhammad Siban.
  • Pimpinan DPW PPNI Sumut, Mahsur Angkatan laut(AL) Hazkiyani mengimbau perawat di Kota Pematangsiantar senantiasa bekerja handal buat membaktikan diri tanpa membeda bedakan suku agama, kalangan serta tipe kelamin.
  • Dia menyebut terdapat 1.817 perawat di Kota Pematangsiantar serta 750 orang di Kabupaten Simalungun.
  • Kami memohon perawatan buat senantiasa tenang jangan terprovokasi, senantiasa bekerja handal serta senantiasa melindungi kerukunan umat beragama.

Polisi menerapkan Pasal 156 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara untuk menjerat petugas tersebut. [mtm]

BACA JUGA : Polda Metro Jaya Berhasil Ungkap Kasus Mafia Tanah Yang Menimpa korban Ibu Dino Patti Djalal

Komentar