oleh

Sudahkah Anda Memanfatkan Sampah Sebagai Kompos? Padahal Masih Efektif Dalam Penanganan Sampah

Salah Satu Pemanfaatan Sampah Enceng Gondok Sebagai Kompos di Dusun Butuh Desa Sumberejo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak, Sumber : Ali Sodikin

Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan penanganan yang sesuai. Pengomposan dapat mengendalikan bahaya pencemaran yang akan terjadi di jauh kemudian hari dan ternyata menghasilkan nilai benefit secara ekonomi.

Perkembangan teknologi industri telah menciptakan ketergantungan pertanian terhadap pupuk kimia buatan pabrik sehingga membuat orang melupakan kompos. Padahal memanfaatkan sampah sebagai kompos memiliki manfaat tersendiri yang tidak dapat diperoleh dari pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu :

  1. Mengurangi dan kepadatan tanah memudahkan perkembangan akar dan dalam hara.
  2. Meningkatkan kemampuan mengikat air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih aman dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.
  3. Menahan erosi tanah sehingga mengurangi pencucian hara.
  4. Menciptakan kondisi yang sesuai untuk jasad penghuni tanah seperti cacing dan mikroba tanah yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.

Hasil dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian khususnya di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dan pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA eklamasi pantai pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair, dan limbah industri pertanian.

Baca Juga : Sumber PAD Baru Bagi Lamongan, Enceng Gondok Apakah Membawa Rezeki?

Pengomposan dapat dilakukan secara individual di setiap
rumah atau secara komunal oleh Komite Lingkungan RT/RW.

  1. Pengomposan Individual

Pengomposan dapat dilakukan dengan cara individual. Setiap orang dapat membuat kompos sendiri, Jika dilakukan dengan benar dalam proses tidak ada bau busuk dan higienis. Tidak memerlukan tempat luas, tetapi tidak boleh kena hujan atau sinar matahari langsung.

Sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik (kegiatan ini disebut “memilah sampah”) kemudian dicacah menjadi berukuran 2 cm x 2 cm agar mudah dicerna mikroba kompos. Wadahnya boleh keranjang cucian isi 40 L atau lebih dikenal dengan Keranjang Takakura, ember bekas cat atau kaporit (isi 25 L), drum bekas yang dipotong menjadi dua bagian (isi 100 L), keranjang rotan atau bambu yang isinya lebih dari 25 L untuk mempertahankan suhu kompos. Pemilihan wadah tergantung bahan yang tersedia, selera dan banyaknya sampah setiap hari.

Sampah harus dimasukkan wadah kompos setiap hari (sebelum menjadi busuk) dan diaduk sampai ke dasar wadah supaya tidak becek di bagian bawah, Pengadukan juga dimaksud untuk memasukkan oksigen yang diperlukan untuk pernapasan mikroba kompos. Jika wadah sudah penuh, kompos baru bisa dipanen jika sudah matang.

Pengomposan dimulai lagi dengan wadah lain, dengan aktivator sebagian kompos yang masıh panas dari wadah pertama. Kompos setengah jadi ini bisa juga dikirim ke pengomposan komunal untuk diproses bersama-sama. Sebagian ditinggal dalam wadah untuk dijadikan activator. Warga akan mendapat hasil panen kompos, atau membelinya dengan harga khusus.

  1. Pengomposan Komunal

Pengomposan secara komunal pengomposan yang dilakukan bersama warga satu lingkungan. Pengomposan ini memerlukan bangunan tanpa dinding, atapnya bisa dari plastik terpal, daun kirai, plastik gelombang, genteng, dan sebagainya tergantung dana yang tersedia. Lantainya bisa tanah, semen atau paving blok. Kita bisa menyebutnya sebagai “Rumah Kompos”.

Untuk wadah pengomposan sampah organik rumah tangga dapat dibuat bak atau kotak dari bambu, kayu, paving blok, bata, dan sebagainya, Agar dapat menyimpan panas, kotak harus memiliki volume paling sedikit 500 L atau memiliki panjang 75 cm, lebar 75 cm dan tinggi 1 m. Salah satu sisinya harus bisa dibuka, untuk mengeluarkan adonan kompos jika seminggu sekali dibalik. Banyaknya kotak tergantung jumlah sampah yang akan dikelola.

Baca Juga : Manfaat Jus Bayam untuk Kesehatan Anda

Hal penting agar tempat pengomposan bersih dan tidak berbau busuk, sampah yang masuk hanya sampah orgaik saja, Warga harus memilah sampahnya di rumah masing-masing (mengikuti RUU Persampahan). Di depan rumah tidak perlu ada bak sampah, tetapi disediakan dua wadah sampah untuk sampah organik dan anorganik. Petugas pengangkut sampah mengambilnya dengan gerobak sampah yang diberi sekat. Sampah organiknya diturunkan di Rumah Kompos.

Selanjutnya oleh petugas dicacah (manual atau dengan mesin pencacah), Jika menggunakan mesin pencacah, agar sampah tidak mengeluarkan air dan untuk menambahkan unsur Karbon, dicampurkan terlebih dahulu serbuk gergaji, Jika pencacahan secara manual, serbuk gergaji dicampurkan sebelum masuk wadah kompos. Aktivator yang digunakan adalah adonan kompos yang masih aktifatau belum selesai berproses. Jika menggunakan mesin pencacah, activator ditambahkan sebelum masuk mesin.

Adonan kompos dari sampah organik rumah tangga jika diaduk setiap hari, akan matang dalam waktu kurang lebih 10-14 hari, namun harus distabilkan dahulu sampai suhu menjadi seperti suhu tanah, kira-kira makan waktu dua minggu baru bisa dipanen, Jika akan dikemas diavak terlebih dahulu untuk memisahkan bagian yang kasar atau belum menjadi kompos.

Jika tanah yang tersedia cukup luas dan sampahnya cukup banyak, pengomposan dapat dilakukan dengan sistem yaitu dengan timbunan-timbunan yang memerlukan pembalikan, Kompos setengah jadi yang dikirim oleh warga dicampurkan ke adonan kompos yang sudah berusia kurang lebih satu minggu, dan akan matang bersama-sama. [mtm]

Komentar

Berita Terkait